Pemandangan Depan Rumah

Juli 7, 2010 pukul 3:41 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , ,

Terkadang orang harus jauh-jauh ke tempat yang antah berantah hanya untuk menikmati panorama yang indah. Boleh memang ^_^, tapi alangkah baiknya jika kita duduk sejenak di depan rumah, mungkin di saat sore atau pagi hari…, lihat sekeliling dan syukuri anugrah Allah Subhana wata’ala yang telah menciptakan seisi alam ^_^.

Jika anda peka, anda akan dapat merasakan suasana indah yang tentram,,,(tapi tergantung dimana anda tinggal). Dan mungkin anda bisa mengabadikannya, seperti pemandangan depan rumah saya ahahah ^o^ di senja hari memang indah…., tapi pada waktu tertentu…

SENJA UNGU

Dan tentu ada lagi 😀

SENJA KUNING

Senja

Ah cukup sekian 😀

Nah, mau mencoba mengabadikan momen indah di dekat rumah ANda? ^_^ DITUNGGU

B-)

The Legend of The Blue Eyes Power

Februari 14, 2010 pukul 1:29 am | Ditulis dalam Bahasa, Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , , , , , , ,

Awal dari sebuah kejadian yang akan mengubah seluruh dunia. Dimulai dari sebuah hari yang penuh darah dan debu di sebuah kota yang ramai.

Tidak ada bom, tidak senjata api, tidak ada pesawat terbang, dan tidak ada persenjataan canggih yang ikut serta dalam pertarungan yang penuh bau darah dan burung-burung yang bermandikan darah di udara karena semburan cairan manusia itu menyembur hingga ke awan.

Akn tetapi…, dapatkah kalian membayangkan akibat perang itu? Jutaan umat manusia harus hilang dari muka bumi. Jasad mereka berserakkan di mana-mana. Sungguh malang, yang mereka hadapi bukanlah serbuan pasukan dari negara-negara sekutu atau pun negara-negara kolonial yang haus akan kekuasan dan penuh kedengkian mereka dengan senjata pemusnah di gudang belakang rumah mereka. Akan tetapi…., mereka adalah….

Selamat datang di kota yang telah mati ini. Kota Marwa, sebuah kota yang di mana hidup orang-orang yang saleh dan salehah. Hidup dengan damai bersama penduduk lainnya di provinsi tersebut. Kota ini berbatasan langsung dengan desa Aswa. Wilayahnya lebih besar dari kota Marwa, akan tetapi penduduknya masih sederhana dan arus perubahan agal lambat menresap ke tempat ini.

Selamat datang di kota yang telah mati ini. Kota Marwa. Di sini kau tidak akan menemukan apapun selain mayat-mayat yang telah memperjuangkan tempat tinggal mereka. Musuh telah pergi. Yang dicari bukan di sini. Musuh yang datang tadi pagi. Hanya lima orang. Dan mereka memiliki bola mata yang aneh. Berwarna dan bersinar, walaupun di siang hari. Bagaikan mata kucing dan anjing yang mengincar mangsa di hutan.

Sang musuh tahu kalau kota ini hanya sebuah benteng dari tempat yang mereka incar. Kaki-kaki setan nan busuk itu telah menginjakkan kakinya sebagian di desa Aswa. Pertempuran pun mulai kembali. Para pejuang desa bertarung lebih gigih daripada penduduk kota itu. Walaupun tanpa senjata api di tangan dan alat komunikasi di telinga, akan tetapi mereka memiliki rasa juang yang tinggi.

Mereka bertarung dengan kekuatan luar dalam mereka. Roh-roh halus ikut membantu, karena memang kelima manusia laknat ini membabat habis makhluk hidup, baik yang tampak maupun gaib.

Para pejuang desa tahu siapa yang mereka lindungi. Mereka harus mengorbankan jiwa dan raga mereka. Para Jin dan makhluk halus lainnya pun tahu apa yang penduduk desa lindungi dan apa yang harus mereka lindungi. Yaaah…, jangan berharap kau bisa menyaksikan iblis dan seluruh Jin bertarung bersama pejuang desa karena hanya Jin yang beriman sajalah yang membantu mereka.

Kelima manusia itu sadar kalau mereka tidak bisa melanjutkan pertarungan. Mereka lari terbirit-birit dengan tubuh hancur lebur, hancur dalam arti sesungguhnya. Beberapa orang lari tanpa kaki dan kepala yang hilang sebagian, dua di antara mereka, lari dengan dada yang hancur hingga tulang-belulang mereka berayun-ayun dan menimbulkan bunyi saat mereka lari. Sedangkan yang satunya lagi, yang lebih muda, lari hanya tubuh dan kepala yang sudah tak berupa lagi.

Pejuang desa menang. Seluruh desa terselamatkan, untuk saat ini

Tabib-tabib desa berjalan di reruntuhan desa Marwa. Para penduduk desa Aswa bahu membahu menggali liang lahat untuk mereka yang berjuang demi tanah air mereka. Pasukan-pasukan berpatroli di daerah mereka.

Tidak ada satu penduduk desa pun pada saat itu berada di rumah, di sawah, di kebun, dan di tempat lain. Mereka sibuk mengurus jenazah yang berserakan di mana-mana di kota itu.

Suara isak tangis terdengar dari reruntuhan kota itu. Semuanya terkejut dan heran, siapa yang menangis? Tidak ada satu pun penduduk desa yang memiliki hubungan khusus dengan penduduk kota Marwa ini. Maka beberapa pasukan dan ibu-ibu yang prihatin mencari arah tangisan yang pilu itu.

Anak yang berbakti dan sayang pada orang tuanya. Ia memeluk erat jasad kedua orang tuanya. Air matanya membasahi lantai. Ia menangis darah.

Seorang pasukan datang dan berusaha membujuknya agar melepaskan jasad kedua orang tuanya. Anak itu menggeleng dan terus saja menangis. Prajurit itu tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap-usap rambut anak itu.

“Sudahlah, mungkin ini adalah akhir bagi mereka, namun tidak bagimu, Nak,”

Kata-kata itu mengusik hati kecil sang anak. Teringat akan apa yang dikatakan ayahnya beberapa hari lalu saat ia kehilangan kelinci kesayangannya.

“Kau, seperti ayahku. Siapa namamu?” tanya sang Anak.

“Aku, Kormam,”

“Nama ayahku juga Kormam, kenapa sama ya?”

Prajurit itu tersenyum. “Sekarang akulah ayahmu yang baru,”

“Lalu, ayahku dan ibuku ini…?”

“Mereka telah pergi, Nak,”

“Kemana?”

“Ke tempat di mana nanti kita juga bisa ke sana, Nak,”

“Apakah jauh?”

“Tidak jauh dan tidak pula dekat, Nak,”

“Apa aku bisa bertemu dengan mereka nanti?”

“Tentu saja, tapi bukan sekarang,”

“Kapan?”

“Nanti,”

“Nanti?”

“Ayo, sekarang ikut bersama ayahmu yang baru ini pulang ke rumah barumu,”

Pasukan itu membuka pelukannya. Anak itu menerimanya dengan ragu.

Kejadian yang membuat kaum hawa yang ada pada saat itu telah lebih dari cukup untuk membuat hati mereka pilu dibuatnya.

Lelaki itu membawa pulang anak barunya. Dalam hatinya ia berucap. “Subhanallah, anak ini adalah kunci pembuka dan kunci penutup peperangan ini, Ya Allah! Maka selamatkanlah dia!”

Kejadian ini segera dilupakan oleh penduduk desa. Mereka harus melupakan kejadian ini untuk maju. Sedangkan anak itu harus menjalani hidupnya yang baru. Dan kini…, ia telah menginjak remaja. Dan…, ia harus menghadapi tugasnya sebagai kunci penutup peperangan ini. Sebagai seorang bangsawan…

Untuk sambungannya…, silakan baca di sini 😀
The Legend of The Blue Eyes Power

Antisipasi Menggunakan Facebook

Desember 26, 2009 pukul 5:08 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , ,

Well, siapa yang gak kenal Facebook? Hm, pasti ada deh, anak kecil yang baru lahir pasti belum kenal :)) dan sebagian pasti belum tahu.

Tapi bukan itu masalah yang akan Kita bahas. Well, gw ada contoh kasus yang gw alamin. Begini ceritanya (cieee, kayak film misteri aja)

Suatu hari saya lagi asyik bermain Facebook. Sedang menggoda seorang gadis dan katanya gw cewek. Kaget juga siy, perasaan gender yang gue isi cowok, tapi sekali liat akunnya beneran cewek. Hiiii :-O

Dan teman Facebook ku pun alamatnya berubah.

Apa yang terjadi?

Kemungkinannya ada 3:
1. Gue salah memasukan identitas.
2. Ada hacker.
3. Ada yang tau Password kita dan login.
Cara yang sederhana kita ganti password kita sebelum orang lain mengambil alih.

Ya…,cukup sekian :))

Benar, Salah, Dibenarkan, atau Disalahkan

September 24, 2009 pukul 4:25 pm | Ditulis dalam Bahasa, Uncategorized | 2 Komentar
Tag: , , , , , ,

Artikel ini Saya buat kembali sebagai bagian lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Kebiasan Salah Menyebutkan Kata Berimbuhan yang lalu. Dan juga ini adalah artikel yang Saya buat setelah adanya komentar dari Samalona, yang secara tidak langsung mengingatkan penulis tentang salah satu keunikan penulisan imbuhan me-.

Berikut adalah hasil pemikiran Saya ketika sedang asyik beres-beres rumah 🙂

Kok Bisa Begini, sih?

Begini apanya? 🙂 Begini lho!
Kalau diperhatikan baik-baik dalam kata yang berimbuhan me- yang juga bertemu dengah imbuhan pe-, sering terdapat 2 versi yang berbeda yang bahkan sering digunakan oleh masyarakat. Tidak dikhususkan apakah dalah berbicara, menulis surat, hingga siaran Televisi.

Oke, coba Kita menggunakan kata-kata berikut untuk eksperimen Kita kali ini yaitu satu, taruh, tahan, sunting, dan masalah.

Nah, jika ditambahkan dengan imbuhan me- dan pe- akan terjadilah hal ini:
1. Kata satu ada yang menuliskannya/menyebutkannya mempersatukan dan memersatukan.
2 Kata taruh ada yang menuliskannya/menyebutkannya mempertaruhkan dan memertaruhkankan.
3. Kata tahan ada yang menuliskannya/menyebutkannya mempertahankan dan memertahankan.
4. Kata sunting ada yang menuliskannya/menyebutkannya mempersunting dan memersunting.
5. Kata masalah ada yang menuliskannya/menyebutkannya mempermasalahkan dan memersalahkan.

Nah, kelihatan kan? Atau baru menyadarinya? Ya, penulis memang baru sadar akan hal ini. Permasalahan ini muncul khusus ketika imbuhan me- bertemu dengan imbuhan berikutnya yaitu pe-. Entah bagaimana menyikapinya.

Dan menjadi permasalahannya adalah apakah hal ini (yang tidak dengan ketentuannya jika imbuhan me- bertemu dengan imbuhan pe- yang awalan hurufnya “p” yang mau tidak mau harus berubah menjadi mem-) adalah benar, salah, dibenarkan, atau disalahkan?

Namun kalau diperhatikan untuk kata yang berimbuhan me- yang tanpa ada tambahan imbuhanpe-, contohnya dengan kata patuh yang menjadi mematuhi, jarang ditemukan kata yang seperti ini mempatuhi.

Itulah yang menjadi kebingungan Penulis sendiri. Bagaimana? Ada yang bisa memberikan saran? 😀
😮 Jujur, penulis Saja bingung 🙂

Kebingungan memikirkan masalah? Ya seperti ini deh jadinya ^-^

Kebingungan memikirkan masalah? Ya seperti ini deh jadinya ^-^

Kebiasaan yang Salah saat Mengucapkan Perubahan Pada Imbuhan

September 21, 2009 pukul 2:03 am | Ditulis dalam Bahasa, Uncategorized | 14 Komentar
Tag: , , , , , ,

Hm…, pelajaran tentang imbuhan mungkin sudah dipelajari sejak SD. Saat SMP sudah dipelajari tentang detil-detilnya dari manfaat sampai perubahan-perubahannya. Seperti jika imbuhan me- bertemu dengan kata yang berawalan huruf “s”, contoh pada kata suka maka imbuhan me- akan berubah menjadi meny-, sehingga kata suka berubah menjadi menyukai.

Namun, hehehe :-D, ada kata-kata yang bertemu dengan imbuhan diucapkan berbeda atau bisa dibilang salah diucapkan :).

Contoh yang sering dijumpai adalah kata suci. Hampir sering didengar di kehidupan masyarakat, dari berbincang, hingga chatting di internet, dan juga di siaran televisi (biasanya sih kata ini sering disebutkan di acara dakwah 🙂 ). Kata ini saat ditambah imbuhan me-, sering diucapkan mensucikan, bukan menyucikan (sesuai dengan kaidahnya ^-^ ).

Bukan itu saja, masih ada lagi seperti kata sukses dibaca mensukseskan bukan menyukseskan, dan beberapa kata lain yang “terbiasa” diucapkan tidak sesuai dengan kaidahnya yang dilupakan oleh Penulis sendiri 😛 hehehe.

Nah…, mungkin ada alasannya kenapa bisa begitu. Berikut adalah kemungkinan dari Penulis mengapa hal tersebut bisa demikian terjadi (bahasanya kok ribet ya? :-D)

1. Agak janggal menyebutkannya.
Kok? Begitu…, ya…, kemungkinan ini bisa jadi. Seperti contoh pada kata mensukseskan akan terasa aneh jika dibaca menyukseskan. Kesannya bagaimana ya? Terlalu panjang dan ya itu tadi agak aneh 😀 (ini menurut pendapat Saya 🙂 ).

2. Takut terjadi kesalahan tafsir.
He? Kok begini? Ya…, mungkin saja 🙂 contohnya pada kata mensucikan. Bagaimana jika ada seorang berkata menyucikan. Pasti sebagian besar pikirannya akan mengarah ke kata “cuci” bukan “suci”.

3. Karena kebiasaan
Hm, mungkin juga 😀

Hm…, mungkin itu adalah garis besarnya. Ya…, akhir-akhir ini sudah mulai terjadi perubahan dimana sudah mulai untuk mengikuti kaidah Bahasa Indonesia. Seperti kata mensukseskan kini sudah mulai sering disebut menyukseskan.

Oke, pemaaf mohon maaf hanya bisa memberikan contoh pada imbuhan me- yang ketemu kata dengan awal huruf “s” karena penulis hanya teringat di sini saja :).

Ya…, semoga bisa bermanfaat. Amin! Well…, Selamat Hari Raya Idul Fitri!

Ekspresi seseorang jika diberitahu kesalahan yang mengakar. Tapi kok ada tulisan Sutradara? Maklum itu karya Saya untuk tujuan yang berbeda ^-^

Ekspresi seseorang jika diberitahu kesalahan yang mengakar. Tapi kok ada tulisan Sutradara? Maklum itu karya Saya untuk tujuan yang berbeda ^-^

Arti Gaul Sesungguhnya (Mari dibahas dari sisi bahasa)

September 20, 2009 pukul 11:23 pm | Ditulis dalam Bahasa, Uncategorized | 13 Komentar
Tag: , , , , , , , , , ,

Mungkin orang beranggapan bahwa anak gaul itu identik dengan aneka pernak-pernik yang melekat ditubuhnya. Seperti, gelang, cincin, anting-anting, kalung, rantai, dan lain-lain.

Pernyataan di atas diperkuat dari hasil perbincangan dengan teman-teman sekolah. Banyak siswa yang beranggapan bahwa anak gaul itu adalah sama seperti yang di atas. Padahal, arti dari gaul itu sendiri bukanlah demikian.
Banyak anak muda menganggap jika tidak merokok bukanlah anak gaul atau pun jika tidak menindidik telinganya (khusus cowok) itu bukan anak gaul. Namun, anggapan itu salah. Jika kita merokok justru merugikan kesehatan dan memboroskan uang jajan dan menindik telinga itu sangatlah sakit, kalau asal-asalan bisa tetanus dan berakibat kematian. Death. K. O.

Sekarang, jika ingin mengetahui arti gaul itu sebenarnya, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dan cari pada halaman “G” istlah “gaul” Jika telah menemukannya, arti gaul itu adalah hidup berteman atau bersahabat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak gaul adalah anak yang hidup berteman. Bersahabat dengan teman-teman dilingkungannya. Jadi, dari mana kita mendapatkan bahwa anak gaul itu harus menggunakan pernak-pernik itu? Jawabannya hanya satu. Trend. Trend adalah model-model yang digemari pada masa-masa tertentu. Pada saat lagi nge-trend memakai jaket di sekolah, semua memakainya. Saat nge-trend rambut berdiri kayak Bangsa Seiya (berdiri, mohawk), semua mendirikan rambutnya.

Itulah sebagian contoh yang dimasukkan dalam persyaratan menjadi anak gaul. Padahal semua itu salah. Untuk menjadi anak gaul hanyalah tinggal bersahabat dengan orang-orang sekitar atau tetangga, tapi harus pilih-pilih dulu dan mengetahui apa-apa saja yang telah terjadi di daerahnya.

Jadi, kalau ingin disimpulkan lagi lebih mendalam, anak gaul adalah anak yang bersahabat dengan seseorang atau lebih di dalam masyarakat dan daerah tertentu.

Jadi, bahwa anak gaul itu sesungguhnya tidaklah harus memakai pernak-pernik yang menonjolkan ciri khas preman. Melainkan, anak gaul adalah orang yang bersahabat dengan siapa saja dan dimana saja, asalkan yang menjadi sahabat kita itu bukanlah sampah masyarakat.

Pernah dipublikasikan di mading SMP Negeri 1 Sungai Kakap pada tahun 2005 dan di mading SMA Negeri 1 Sungai Kakap pada tahun 2007


Entries dan komentar feeds.