Oktober Kehujanan April Kehausan

Desember 29, 2012 pukul 4:29 pm | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , , ,


Suatu hari di pangkalan ojek ada seorang pria berjas rapi berjalan terburu-buru ke arah seorang pengojek.
“Bang, ke Pontianak, cepat ya,” pintanya ke seorang pria.
“Sip! Silakan naik,” pria itu lalu menghidupkan mesin motornya.
Di tengah perjalanan pria itu mengeluh karena ia merasa tukang ojek tersebut terlihat pelan mengendarai motor, padahal ia sedang terburu-buru.
“Pak, bisa nggak lebih cepat lagi?” pintanya.
“Aduh, Pak. Ini aja sudah kenceng nih,” jawab tukang ojek.
“Tancap gas aja Pak. Kalau bisa 100 kilo tancep saja! Lagi buru-buru nih, Pak,” desak pria itu lagi.
“Bapak yang minta, ya,” tukang ojek itu lantas menarik gas kuat-kuat.
Motor tersebut melaju dengan kencang di jalan raya. Bahkan saat berpapasan dengan kendaraan lain jaraknya hanya sepermilimeter saja dan hampir bersenggolan.
Tiba-tiba seorang kakek menyebrangi jalan seorang diri, tukang ojek itu lalu menginjak pedal rem motor dan membelokkan stang motor ke kanan. Si Kakek terhindar dari tabrakan, namun mobil dari arah berlawanan datang menghampiri. Tukan ojek itu dengan sigap membelokkan motornya ke arah kiri. Mereka berdua lolos dari maut.
“Kamu sudah bosan hidup, ya! Naik motor jangan ngebut dong, Pak!” protes penumpang ojek tersebut.
“Kan tadi bapak yang minta untuk ngebut,”

—–

Cuplikan cerita di atas mungkin tidak ada hubungannya dengan kondisi di Indonesia dimana pada bulan oktober – april mengalami musim hujan dan pada bulan april oktober mengalami musim kemarau. Namun, dari cerita di atas penulis ingin menampilkan kondisi masyarakat ketika dilanda musim kemarau dan musim hujan.

Kita sudah mengetahui bahwa Indonesia yang beriklim tropis ini hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Ketika musim hujan berlangsung dari bulan oktober – april, sebagian besar wialyah Indonesia diguyur hujan. Khususnya di provinsi Kalimantan Barat, di Kota Pontianak dan sekitarnya pada musim hujan hampir setiap hari hujan turun dan terkadang hanya berselang 2 – 3 hari tidak turun hujan sama sekali.
Dapat dibayangkan berapa banyak Air hujan yang turun selama musim penghujan di Indonesia. Air hujan sebagian besar digunakan masyarakat Kalimantan Barat sebagai sumber Air untuk konsumsi warga. Inilah mengapa di daerah Kalimantan Barat, di setiap rumah penduduk memiliki alat penampung Air yang disebut dengan tempayan. Walaupun Kalimantar Barat memiliki perusahaan Air minum yang memasok Air bersih ke masyarakat, namun Air hujan tetap menjadi primadona bagi masyarakat Kalimantan Barat karena gratis dan kualitas arinya pun baik.

Orang bijak sering mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sama halnya dengan Air, di musim penghujan Air begitu banyak sehingga mendatangkan masalah baru. Ketika musim kemarau, warga dengan penuh harap daerahnya diguyur hujan. Tapi, ketika musim hujan tiba warga dengan penuh harap agar diberikan beberapa hari atau beberapa minggu untuk terbebas dari hujan. Dampak yang dikeluhkan bermacam-macam, mulai dari jalan yang menjadi becek atau licin, menyebarnya penyakit, hingga banjir. Ketika pada musim kemarau, kekeringan melanda. Hujan turun hanya beberapa kali dalam sebulan. Akhirnya persediaan Air bersih warga berkurang bahkan habis. Tempat penampungan Air hujan milik warga memiliki kapasitas yang kecil. Rata-rata satu rumah hanya memiliki 4 – 6 tempayan yang jika penuh hanya mampu untuk keperluan Air bersih kurang lebih dua bulan (Air tidak digunakan untuk mencuci). Hujan yang turun pada musim kemarau pun biasanya singkat dan Airnya kehitaman dan bau asap sehingga tidak bisa dijadikan Air minum atau untuk memasak. Jadi, seperti cerita di atas. Ketika kurang kita meminta lebih, ketika diberi lebih kita ingin dikurangi.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Air merupakan sumber kehidupan. Bagi masyarakat Kalimantan Barat (mungkin berlaku juga bagi seluruh manusi di Bumi), tidak masalah jika tidak mandi sebulan daripada tidak minum sehari. Ketika musim kemarau, Air sungai berubah menjadi Air asin. Air sungai biasanya digunakan hanya untuk mencuci, sedangkan untuk makan dan minum menggunakan Air hujan. Air hujan atau Air bersih susah didapat. Kalaupun ada Air yang tidak asin, warnanya keruh dan tidak dapat untuk dikonsumsi.

Masyarakat yang mengandalkan Air hujan tidak dapat berbuat banyak. Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan Air bersih yang layak konsumsi. Mulai dari membeli Air galon hingga membuat sumur bor. Tapi, tentu saja hal tersebut memerlukan dana yang lebih dari biasanya. Akibatnya, ketika musim kemarau pengeluaran semakin besar karena harus membeli Air, membayar jasa pembuatan sumur bor atau memompa Air tanah. Solusi tersebut dapat berjalan jika masyarakat memiliki uang yang cukup. Lalu, bagaimana jika tidak?

Ada beberapa solusi yang dapat digunakan, antara lain :
1. Membuat tempat penampungan Air hujan bersama. Masyarakat dengan swadaya membuat tempat penampungan Air hujan. Dengan kapasitas lebih besar, diharapkan dapat menjadi cadangan Air bersih bagi warga.
2. Menjaga ekosistem hutan, terutama di gunung-gunung. Sumber Air pegunungan merupakan salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat yang jauh dari pantai. Jika ekosistem hutan rusak, sumber Air dapat tercemar hingga hilangnya sumber Air.
3. Menggunakan alat penjernih Air seperti Pure It, sehingga Air yang tidak layak konsumsi dapat digunakan.

Ketiga solusi tersebut mungkin bisa diterima dan mungkin juga bisa ditolak. Namun yang harus kita sadari bersama adalah bahwa fenomena musim hujan dan kemarau sudah terjadi jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia sehingga masalah ini dapat dikatakan sebagai masalah klasik. Diperlukan tindakan nyata dari masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi hal ini.
Jika sudah mengetahui bahwa setiap tahun akan ada masa “kehausan” dan masa “kehujanan” , lalu apakah kita hanya diam saja dan menerima saat haus dan hujan?

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: