Tiket Becak 99 (Part III) Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2011

Juni 23, 2011 pukul 1:06 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Seto masih tidak begitu yakin tentang apa yang ia alami. Diperhatikannya sekelilingnya, semua tampak asli. Tidak. Semuanya asli. Hembusan angin malam, suara jangkrik, langit dan bintang serta sinar bulan, semuanya sama. “Sebenarnya?”

“Kakak?” sesosok gadis kecil berdiri tepat di belakang Seto.

Seto berbalik. “Oh, kamu dek. Ada apa? Nggak nemenin ayahmu di tenda?” tanya Seto.

“Mmm…, ayah udah ada temennya di tenda. Lagipula ayah udah bisa ngobrol,” jawab gadis itu.

“Tapi kan udah malem, tidur gih sana,” pinta Seto dengan lembut.

“Nanti aja. Aku mau ngucapin terima kasih pada Kakak. Udah ngalahin nenek itu,” kata gadis kecil itu dengan penuh semangat.

Seto hanya senyum tipis. “Ehehehe, kakak juga nggak tau. Kayak mimpi saja,”

“Memang mimpi kok, Kak,” jawab gadis itu. “Orang-orang di desa punya mimpi yang sama. Bisa hidup tenang tanpa nenek jahat itu lagi,”

“Benarkah? Memangnya sudah berapa lama nenek itu ganggu kamu terus?” tanya Seto.

“Udah lama. Waktu Kiky kecil nenek itu suka usil, jahat lagi. Tapi, mimpi kami terwujud karena Kakak. Makasih ya Kak,” gadis kecil itu tersenyum lebar kemudian berlari meninggalkan Seto sendirian.

“Mimpi.., yang terwujudkan? Masa sih?”

***

Pagi-pagi sekali sudah terdengar hiruk pikuk penduduk desa yang membangun rumah-rumah yang hancur diserang nenek ‘Kisut’ beberapa hari yang lalu. Sedikit mengusik tidur, Seto pun terbangun. Matanya menerawang di balik celah tenda yang terbuka. “Masih di alam ini. Apa benar aku benar-benar pindah ke dunia mimpiku sendiri?”

“Ooy! Masih siang juga ya bangunnya?” sapa Roni dari balik tenda.

“Eh? Masih awal juga lo bangun,” balas Seto.

“Ehehe, kan emang begitu tiap hari. Yok, bantu-bantu warga. Lo kan bisa gerak-gerakin bumi. Pasti lebih enteng bangun rumah-rumah yang udah hancur,” ajak Roni.

“Em…, iya deh,”

Dengan sedikit malas, Seto keluar dari tenda. Matanya terbelalak melihat desa yang tadinya luluh lantak, dalam waktu beberapa jam saja sudah hampir seperti semula. Yang terlihat hanya perbaikan-perbaikan kecil saja.

“Ron, gue tidur lebih dari satu minggu ya?” tanya Seto tidak percaya.

“Nggak kok. Kaget ya?” tanya Roni.

Seto mengangguk.

“Sama. Saat gue bangun juga udah kayak gini. Ajaib banget,” komentar Roni.

Tak jauh dari tempat mereka, Seto dan Roni mendapati ayah dari gadis kecil semalam, yang terkena bola api tadi sedang menggunakan jurus yang hampir sama dengan Seto. Bedanya, ia hanya bisa menggerakkan bahan bangunan yang terbuat dari pasir dan batu dalam jumlah kecil pada saat bersamaan.

Seto kemudia melihat di sekelilingnya. Hampir semua pria di desa itu mampu menggunakan jurus yang sama. “Waw, kok bisa ya?” komentar Seto,

“Eh, Set. Coba lu liat yang di atas,” perintah Roni sambil menunjuk ke arah benda yang sedang melayang.

“Hah! Helikopter? Buset, zaman kayak gini udah ada?” Seto tak percaya melihat ada beberapa buah benda mirip helikopter lalu lalang di udara sambil membawa kayu-kayu besar.

“Helikopter? Maksudmu mesin terbang yang ada baling-balingnya?” kata Roni meyakinkan.

“Iya. Kok ada sih di sini?”

“Hm, gak juga kali Set. Coba lu liat penggerak baling-balingnya,”

Seto mempertajam penglihatannya. Di dalam kendaraan itu ada tiga orang. Satu memegang kemudi dan dua lainya menggerakkan baling-baling dengan kemampuan pengendalian udara. “Hebat,”

“Hm, sepertinya di desa ini canggih-canggih semua,” komentar Roni.

“Eh eh, masa?” tanya Seto tidak percaya.

“Coba liat di ujung sana,” Roni menunjuk ke sebuah atap bangunan rumah yang tingginya sekitar tiga lantai terpasang seperti peralatan parabola. “Dan itu,” kini Roni menunjuk sebuah alat pengangkut yang sedang membawa bongkahan batu besar dengan mudahnya. “Hm…, dan yang satu itu,” kini Roni menunjuk ke arah belakang. Sebuah kandang raksasa berisi hewan seperti gorila menjadi penghuninya. Penduduk desa dengan mudah menggiring dan menyuruhnya untuk melakukan apa yang dikehendaki.

“Canggih bener, tapi tradisional,” komentar Seto.

“Hm, mereka memiliki potensi yang sangat besar. Tapi, kok bisa mereka bisa hancur gara-gara nenek ‘Kisut’ itu? Padahal mereka punya peralatan yang bisa dengan mudahnya mereka pakai,” tambah Roni.

“Benar,” Seto membatin. “Kenapa mereka yang punya semua ini bisa takluk?”

“Ah, pahlawan Kita ada di sini!” sorak seorang penduduk desa.

Dalam waktu singkat, Seto dan Roni dikelilingi oleh warga desa. Kegiatan mereka hentikan hanya untuk menyalami mereka berdua.

“Sudah sudah, jangan berlebihan. Kemaren kan udah,” sahut Roni malu-malu.

“Tidak apa-apa. Kami terima kasih sekali kalian mau membantu Kami,” jawab seorang penduduk desa.

“Iya, Kami sudah menunggu ramalan ini terjadi,” tambah satunya lagi.

“Ramalan?” kata Seto dan Roni bersamaan.

“Iya. Seorang peramal mengatakan pada Kami bahwa desa Kami akan terus diteror oleh nenek penyihir dan akan berhenti jika ada dua orang pemuda hebat yang bisa menggunakan tanah dan air untuk melawannya,” jawab ayah sang gadis.

“Tapi, kalian kan sudah punya semua ini. Ku kira ini semua sudah lebih dari cukup untuk mengalahkan nenek itu!” komentar Seto.

“Tidak bisa! Kalau kami lawan, percuma saja!” jawab si ayah.

“Sudah pernah dicoba?” tanya Roni.

“Sudah, sekali kami mencoba dan hasilnya kami gagal. Banyak yang mati,”

“Memangnya, kapan kalian mencoba?” tanya Seto.

“Bukan Kami. Tapi kakek buyut Kami,”

“APA?” Seto dan Roni terbelalak.

“Oleh karenanya, leluhur Kami mengajarkan teknik untuk merenovasi rumah dan desa secara cepat agar Kami dapat bisa hidup dengan tenang,” jawab si ayah. “Tapi kali ini Kami akan lebih tenang sebab tidak akan ada teror dari nenek,”

Seto terdiam. Seolah ada yang menusuk di hatinya.

“Kalian…,” Seto menggumam.

“Ada apa?” tanya si ayah.

“DASAR BEGOOO…!” Seto mencengkram kerah baju si ayah dan mendorongnya ke dinding. Roni dan warga lainnya hanya bisa diam melihatnya.

“Apa-apan nih?” protes si ayah.

“Kalian ini bagaimana sih? Masa dengan apa yang kalian punya, ga’ berani ngelawan si nenek? Si nenek cuma bisa ngeluarin api satu persatu dari tangannya. Tapi kalian dalam waktu sekejap sudah bisa membangun desa kalian dengan megah kembali, BERSAMA-SAMA!”

“Apa yang sebenarnya mau Kamu katakan?” si ayah mulai tidak suka dengan sikap Seto.
“KALIAN PECUNDANG! Pengecut! Hanya karena gagal berusaha dalam pertama, bahkan itu dilakukan kakek buyut kalian? Sudah menyerah begini? Hanya mengharapkan ramalan? Kalau begitu sih sampai mampus seluruh penduduk desa mungkin ga’ akan terwujud!”

Si ayah terdiam. Roni dan yang lainnya juga.

“Aku tidak menyangka, orang-orang yang memiliki potensi seperti ini, begitu mudah menyerah. Takluk pada omongan tidak benar. Mudah menyerah dan payah,”

“Mudah menyerah dan payah,” kata si ayah mengulang kata Seto.

Tiba-tiba si ayah berubah wajahnya menjadi Seto. “Mudah menyerah dan payah, itu kan dirimu juga,” jawabnya.
Seto terdiam. Kepalanya terasa berat. Sakit rasanya. Matanya berkunang-kunang. Ia lalu tersungkur. Bisa dilihatnya seluruh warga desa wajahnya serupa dengannya. Hanya Roni yang tetap dan kemudian memudar, hilang bagaikan asap. Nafas Seto semakin berat, sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin.

***

Banyak orang beridiri di tepi sungai. Walau hujan masih lebat, tidak menghalangi warga untuk melihat lokasi kejadian kecelakaan. Sebuah bus remnya blong dan menabrak mikrolet sampat tercebur ke sungai. Semua korban selamat, tapi tinggal satu belum ditemukan, Seto.

Seorang pemuda kemudian terjun ke sungai. Padahal sudah ada tim SAR yang mencari Seto di dalam air. Tanpa peralatan selam pemuda itu terus menyelam ke tempat satu ke tempat lainnya yang dekat dengan lokasi kejadian.
Tim SAR berulang kali meneriakinya agar berhenti karena arus sungai semakin deras dan kemungkinannya Seto sudah terbawa arus. Tapi ia bersikeras bahwa Seto masih di dekat situ.

Roni, nama pemuda itu. Tertulis di bajunya berwarna biru hitam itu. Kembali menyelam, kini agak lama. Hampir satu menit, belum muncul juga. Dua menit kemudian, ia kembali ke permukaan. Ia berenang ke tepi sungai. Seto sudah ditemukannya. Masih hidup.

Warga bersorak-sorai melihatnya. Tim SAR tertegun. “Hey, masih hidup rupanya,” komentar Roni.

“Masih dong,” Seto tersenyum. “Ternyata, walau punya kemampuan tapi ga dipakai, sia-sia juga hasilnya,”

“Ngomong apa sih lo?”

“Tuh? Lu kan mantan diver yang milih jurusan teknik
informatika. Akhirnya lu pake juga kemampuan lu buat nyari gue,” jawab Seto. Walau tenggelam beberapa menit, entah kenapa bicaranya masih lancar.

“Hah, ngawur lo! Kemampuan walau cuma sebiji tapi dipake maksimal, hasilnya segunung bro! Emangnya pas Pak Mi’un ceramah lu gak denger?”

“Eheheh…, tidur,”

“Parah!”

Hujan masih deras. Tim SAR menyalami Roni atas keberhasilannya, warga makin ramai berdiri di tepian sungai. Samar-samar, Seto melihat di kerumunan warga, tukang becak bernomor 99 melambai ke arahnya. Seto membalasnya dengan senyuman. Si tukang becak lantas mengayuh becaknya lagi. Meninggalkan kerumunan.

“Hm, becak nomer 99. Apaan tuh?”

TAMAT

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: