Tiket Becak 99 (Part II) Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2011

Juni 23, 2011 pukul 1:02 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Walau cuaca mendung, hati Seto tetap panas. Hatinya tidak habis berkeluh kesah. Hari ini diawali dengan pengalaman yang tidak mengenakan dari teman satu kamarnya. Laptopnya rusak karena virus dari laptop Azhari. Ditambah lagi ia harus membuat ulang slide presentasi untuk tugasnya besok. Belum lagi tugas kuliah dari dosen-dosen lainnya dan tentunya bermacam rupa pula. Kebanyakan membuat program dan presentasi, Seto memang mahasiswa teknik komputer, tapi dia juga manusia biasa, tidak mampu mengerjakan semua pekerjaan dalam waktu semalam.

“Hah, seandainya aku hidup di dunia yang mudah-mudah semua. Tanpa cobaan, tanpa tugas kuliah, tanpa serangan virus Azhari, hm…,” gundahnya dalam hati.

Pikirannya kemudian ia bawa lari ke dalam mimpinya tadi malam. Menjadi pendekar yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Dan tentunya kemahiran tingkat tinggi pula, sehingga segala masalah dan musuh-musuh tidak masalah baginya.

Langkah lesu Seto terhenti di sebuah kantin di depan kampusnya. Perutnya lapar karena tadi pagi belum sempat sarapan. Sajian makanan yang sudah biasa ia lihat, kini terasa menggiurkan. “Nasi lengkap, Bu. Satu porsi,” pesan Seto.

“Oke, Bos!” jawab pemilik kantin. Dengan sigap seporsi nasi lengkap sudah dihadapan Seto. “Tujuh rebu!” tagih si empunya.

“Yaelah, Bu. Kayak nggak percaya aja sama Saya?” Seto lantas meraba saku celananya. “Lho? Kok nggak ada?”

Seto semakin gerilya memeriksa seluruh saku celana dan bajunya hingga didapatinya saku celananya sudah bolong. Disilet orang, entah kapan dan dimana. Dompet berisi uang untuk hidup selama seminggu di kos hilang sudah.

Wajah Seto memucat. Matanya memerah. Setitik air mata mulai menghiasi matanya.

“Kenapa? Kok mewek?” tanya si empunya kantin.

“Dom.., dompet Saya ilang…,” jawab Seto sayu.

“Ya udah. Ga’ usah makan di sini! No money, no makan!” si empunya lantas menarik nasi dari hadapan Seto.

“Emaaaaak…!” Seto lari dari kantin dengan berlinang air mata, menuju halte di dekat kampusnya. Tempat para tukang bejak ikut-ikutan mencari penumpang.

Orang-orang yang ada di situ tersenyum dan ada yang tertawa melihat tingkah Seno yang seperti anak kecil. Menangis sambil berteriak-teriak. “Kenapa nasibku seperti ini? Apa salahku? Kenapa Aku tidak pernah merasakan setitik pun kesenangan yang ku inginkan?” teriak Seto sekuat-kuatnya.

***

Langit semakin gelap. Hujan mulai turun perlahan kemudian melebat. Seto masih ada di situ. Ia membiarkan dirinya dibasahi hujan. Ini bagaikan akhir dunia. Sudah tidak berarti. “Seandainya, aku bisa pergi dari dunia ini?” keluhnya dalam hati.

“Mau pergi dari dunia ini?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan seto. Arahnya dari belakang.
Seto berbalik badan dan mendapati seorang pengendara becak, lengkap dengan becaknya yang bertuliskan 99 di sisi tempat duduk penumpangnya.

“Bukan urusan Kamu,” jawab Seto.

“Ya tentu urusan Saya dong. Kan, Saya bisa mengantar Kamu ke sana,” jawab si tukang becak percaya diri.

“Lu tau apa sih? Gangguin aja!” Seto lantas menghampiri tukang becak itu dan mencengkram kerah bajunya.

“Dapat!” ucap si tukang becak. Dengan kuat si tukang becak balik mencengkram kerah baju Seto dan dengan mudahnya mengangkatnya ke kursi penumpang di depannya.

“Eh, apa-apan nih?’ protes Seto.

Tukang becak tidak memedulikan protes Seto, dengan kuatnya becak sudah melaju kencang. Semakin lama becak semakin dekat dengan sungai. Tukang becak tidak terlihat akan berbelok atau mengerem. Sebentar saja becak sudah berada di bibir sungai. Becak dan Seto serta sang pengemudinya pun jatuh ke sungai. Dapat terasa oleh Seto dinginnya air sungai tersebut. Tubuhnya yang sudah tidak berdaya di dalam air membuat nuansa tenang di hatinya.

“Mungkin ada benarnya kata tukang becak tadi. Dia tahu kalau kematian bisa membuatku terbebas dari semua ini,”.
Perlahan Seto menutup matanya. Membiarkan tubuhnya tenggelam ke dasar sungai. Kebebasan dan ketenangan menyeruak dalam hatinya, hingga ia tersadarkan oleh guncangan hebat tubuhnya.

“Kak, bangun! Jangan mati, Kak!”

“Suara anak kecil? Cewek lagi,” Seto membuka matanya. Didapatinya gadis kecil yang ia selamatkan dalam mimpi berdiri di sampingnya. “Kok? Kenapa masih di sini?”

“Kata Kakak nggak usah kemana-mana,” jawab gadis kecil itu.

“Eh, tapi kan?” Seto masih kebingungan.

“Eh, Seto! Bantuin gue napa? Gue udah babak belur nih dihajar si nenek,” teriak rekannya yang berkacamata bening itu dari kejauhan.

Seto menatap lagi ke arah gadis tadi. Dapat ia rasakan tatapan yang penuh harapan darinya. Dipejamkannya matanya sebentar dan dibukanya lagi. Keadaan masih sama. Tak berapa lama, Seto mengambil kuda-kuda kembali, sama dalam mimpinya tadi. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasa bersemangat,” batinnya.

“Jurus penggenggam BUMI!”

***

Hari ini penduduk desa bersuka cita. Peneror kampung halaman mereka sudah musnah. Seto dan temannya yang telah menyelamatkan desa mereka. Penduduk yang tersisa masih banyak, namun jumlah korban tewas juga tidak sedikit.

“Eh, lu beneran Roni kan?” tanya Seto kepada rekannya yang hampir sekujur tubuhnya diperban.

“Kurang ajar lo!” sebuah pukul mendarat telak di bokong Seto. “Lu kok lupa nama gue? Apa gara-gara dilempar bola api si nenek itu? Hah, mana gue dibiarin babak belur lagi,” protes rekannya, Roni.

“Oh ternyata benar, Roni,” kata Seto membatin. “Eh? Ini bukan mimpi kan?’

Sebuah pukulan kembali mendarat ke tempat yang sama.

“Aduh? Apa-apan sih lo, Ron?”

“Sakit, nggak?’

“Sakit dong!”

“Emang mimpi bisa sakit?”

“Nggak,”

“Nah, lu tau sendiri,”

Sekali lagi sebuah kebingungan menghampiri Seto. “Ada apa ini? Apa benar permintaanku terkabulkan? Oleh tukang becak?”

Kebingungan Seto seolah tidak menyurutkan upacara ucapan terima kasih penduduk desa terhadap kedua pemuda asing tersebut. Kegiatan terus berlanjut hingga menjelang malam, dan acara pun selesai. Penduduk desa kembali ke tenda-tenda darurat masing-masing. Rencananya, besok akan diadakan pembangunan kemabali.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: