Tiket Becak 99 (Part I) Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2011

Juni 23, 2011 pukul 1:00 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar
Tag: , , , ,

Langit malam yang gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang. Bola-bola api yang tidak terkira jumlahnya menghiasi langit sebuah desa kecil di pinggiran hutan. Kesunyian malam berubah menjadi paduan suara yang menyayat hati. Teriakan kesakitan dan ketakutan membahana dari penjuru desa. Yang masih bisa berlari bergegas menyelamatkan diri, yang sudah terluka parah hanya bisa menunggu ajal menjemput.

Semakin lama bola-bola api semakin banyak berjatuhan. Tidak jelas apa atau siapa yang mengirim bola-bola api tersebut. Yang pasti, selama masih ada penduduk yang bisa berlari menyelamatkan diri, maka sebanyak itulah bola-bola api tersebut bermunculan dari langit dan menghantam desa tersebut.

“Nak, pegang yang erat tangan Ayah! Jangan dilepas!” seorang pria paruh baya mengenggam erat tangan putrinya yang berusia sekitar 10 tahunan itu, berlari melintasi rumah-rumah dan mayat-mayat yang terbakar di sepanjang jalan.
Gadis kecil itu hanya diam dan ikut berlari dengan ayahnya. Wajahnya tegang dan diselimuti dengan arang hitam dari abu rumah yang beterbangan. Naas, sebuah bola api menghantam punggung ayahnya. Genggaman tangan mereka terlepas, si ayah langsung tersungkur tak bergerak sedangkan sang anak pun ikut juga terjatuh. Dihampirinya ayahnya yang punggungnya masih terbakar sedangkan mulutnya terus mengeluarkan darah. Sang anak berusaha sekuat tenaga memadamkan api yang masih membakar baju ayahnya hingga tangannya yang mungil itu ikut juga terbakar.
“Cccsshhh…,” tiba-tiba air menyirami punggung si ayah. Api pun padam.

Sang anak langsung menoleh ke arah datangnya air tersebut. Didapatinya dua orang pemuda mengenakan pakaian serba hitam serta rompi tebal yang menyelimuti tubuhnya. Satu pemuda berkacamata hitam, sedangkan yang satunya lagi berkacamata bening.

“Hm, sepertinya ini ulah si nenek tua itu lagi,” komentar pemuda yang berkacamata hitam.

“Nenek yang mana?” tanya pemuda yang berkacamata bening.

“Nenek mana lagi yang suka main api selain nenek Sate?”

“Ya sudahlah, jangan dibahas nenek siapa yang sedang berulah. Lebih baik Kita ambil bagian dalam pesta ini,”

“Pesta katamu?” pemuda berkacamata hitam itu lantas melepaskan kacamatanya dan menatap ke arah anak perempuan yang tadi. “Nak, pergilah. Ayahmu akan baik-baik saja,”
Sang anak tidak mau beranjak. Ia tetap di samping tubuh ayahnya, tidak tahu apakah masih bernyawa atau tidak.
“Biarkan saja, Seto. Ini tidak akan berlangsung lama,” pemuda berkacamata bening itu lantas memasang kuda-kuda dan mengangkat tangan kirinya ke atas. Air yang berada di dekatnya lantas berkumpul di dekat telapak tangannya dengan cepat. “Jurus bola air!” Bola tersebut lantas terbang cepat ke udara dan meledak dengan dahsyat. Hujan buatan pun turun dengan lebat dan menyirami desa yang terbakar itu.

“Okelah, Kita akhiri segera,” pemuda berkacamata hitam tadi yang dipanggil Seto memasang kuda-kuda dengan kuatnya. Ia hentakkan kaki kanannya ke tanah dan melayanglah sebongkah batu besar yang ada di dekatnya. Kemudian tangan kanannya ia hentakkan ke depan seperti meninju udara, batu itu melayang dan menghantam sebuah objek tak terlihat. “Kena!” serunya.

“Gedebuuk…!” sesosok jatuh dari langit. Bajunya hitam panjang dan rambutnya beruban dan panjang. Ketika ia bangkit, nampaklah wajah wanita tua yang menyeramkan.

“Wah, ternyata bukan nenek Sate, tapi nenek Kisut,” kata Seto sedikit kaget.

“Hah? Nenek apa?” tanya temannya bingung.

“Kurang ajar! Kalian selalu mengangguku!” si nenek ‘Kisut’ itu lantas menciptakan bola api dari kepalan tangannya dan langsung meluncurkannya ke arah Seto.

“Kakak, awas!” teriak si anak tadi.
Kali ini tak terelakkan lagi. Bola api telak menghantam wajah Seto dan ia pun langsung terjerembab ke tanah.
Darah segar mengalir dari mulutnya. Sakit. Sakit sekali rasanya.

“Sakit, sakit banget,” komentar Seto sambil mengelus-elus mukanya.

“Kalau nggak mau sakit, ayo bangun!” teriak rekannya.

“Eh? Apa?” si Seto kebingungan.

“Yee, nih anak! Bangun, udah jam tujuh nih. Kamu kuliah nggak sih?” teriak rekannya itu setengah berteriak.

“Woalah? Kuliah? Eh jadi cuma mimpi?” Seto semakin bingung apa yang terjadi.

“Iyaaa! Cepet kuliah sana, sebelum ibu kos marah!” dengan sekali tendangan Seto langsung masuk kamar mandi.

“Jadi? Cuma mimpi? Hah…,”

***

“Seto, jangan lupa besok Kita presentasi tuh. Power point-nya udah kamu buat belum?” tanya seorang gadis dengan rambut sebahu, Ratna namanya.

“Hm, sudah. Tuh, di dalam laptop gue. Lu copy aja sendiri,” kata Seto sambil menunjuk laptopnya yang tergeletak di atas meja.

“Oke, bos. Nama file-nya apaan?” tanya Ratna

“Tugas Mandiri di dalam folder Tugas Kelompok,”

“Eh? Kok di dalam folder Tugas Kelompok?”

“Biarin! Gue yang buat, laptop juga laptop gue!”

“Huh, cepet amat emosian? Bisa memperpendek umur, lho!”

“Biarin!”

Tanpa mempedulikan Seto yang sedang menggerutu, Ratna langsung menancapkan flashdisk-ya ke laptop berwarna merah maroon tersebut. Sebuah kotak dialog muncul di layar, Ratna langsung meng-yes-kan saja. Tiba-tiba layar dipenuhi oleh animasi jin biru kecil amit-amit menari-nari sambil membawa spanduk bertuliskan “KECIAN DEH LHO..! By ACH4KADUT!” diiringi dengan lagu dangdut
“Judi”-nya Rhoma Irama.

Mata Seto terbelalak, ia langsung mencabut flashdisk milik Ratna. Jari-jarinya langsung menari di papan ketik.

“Flashdisk lu tadi dari laptopnya si Azhari, ya?” tanya Seto.

“Iya, emangnya kenapa?” jawab Ratna.

“Aduuh, laptopnya itu virusan! Segala macam virus ada.

Aduh, gimana nih,” keluh Seto.

“Emangnya laptop lu ga ada antivirusnya?” tanya Ratna.

“Ada, tapi lupa gue update,”

“Jiah, ya udah data presentasi kita selamat, nggak?”
Seto diam. Ia kemudian mengakses folder tempat data tugasnya ia simpan. “Bagus, masih selamat,” ucapnya dalam hati.

Namun satu per satu ikon-ikon yang ada pada foldernya terhapus secara otomatis hingga bersih. Tak satu pun file yang tersisa. Layarnya kemudian padam. Laptop mati mendadak.

“Jadi…, kayaknya lu harus buat lagi deh,” ucap Ratna dengan nada suara yang lemah.

Mata Seto memerah, bibirnya ia kulum seolah sedang mengunyah. “TIDAAAAK…!” teriaknya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: